Saya menceritakan seorang anak manusia yang sedang dipersimpangan jalan, entah hendak kearah mana jodohnya. Klise mungkin tapi itulah yang terjadi. Alkisah seorang perjaka ting-ting yang siap menikah.
Roni, pria mapan namun kurang bahagia. Menurut saya. Dia punya pekerjaan, karir menunjang, siap berkeluarga? Mungkin. Tapi apa yang membuatnya menunda semua itu? Disinilah sebuah kisah bermula.
" Ron, mama mau kamu menikah sama calon yang sudah dicarikan tante mu itu lho. Sudah pasti jadi orang. Anak baik-baik jg toh nduk! nggak salah pilih tante mu itu, percaya sama mama".
" iya ma, ntar Roni pikir-pikir lagi".
“ Mas, uang sekolah ku kapan dibayar? Oia, aku mau foto studio boleh nggak ? temen-temen pada ngajakin. Mm..berapa ya? aku juga kurang tahu".
" Iya, foto aja. Ngga apa-apa kok! ".
" Ron jalan-jalan dong ke bali, kan deket dari tempat kamu kerja. Ntar kapan gitu ajak yg lain juga. Eh, tapi bayarain ya! kita kan nggak punya duit he..he..he..! ".
" Iya-iya, kapan sih maunya?''
Roni, sungguh kasihan saya melihat dirimu. Kenapa hanya engkau yang mampu menjalankan semua ini? Kenapa kakak-kakakmuu yang lain tidak bisa seperti dirimu juga? Apakah ini jalan hidupmu? Seberapa kuat batinmu sanggup menahan semua ini? Mas, saya nggak habis pikir jika saya yang harus mengalami semuanya. Hutang budimu banyak karena Mas disekolahkan oleh tante yang kaya itu. Yang punya kekuasaan penuh terhadap segala sesuatu yang ia berikan kepada orang lain.
Mas, saya benci orang-orang seperti itu. Pamrih sekali mereka. Mereka boleh menyekolahkanmu setinggi langit, seluas samudera, tapi tidak dengan hidupmu. Hidupmu hanya milikmu dan Tuhan. Saya tidak ingin Mas diatur dengan semua ini. Siapa mereka yang berhak mengatur segala sesuatunya? Kamu bukan pesuruh, Mas. Saya tahu jika hanya sekedar membalas budi atas kebaikan bude yang sudi membuatmu menjadi sarjana dan mengirimmu ke London, meskipun hanya setahun. Saya melihatnya Mas, jangan sangka saya tidak mengerti semua itu. Meskipun saat itu saya baru duduk di bangku SD dan cuma menitipkan seorang cowok ganteng dari sana. Saya tidak sepolos dugaaan orang tua seperti mereka. Saya mengerti semua itu, karena mama juga bernasib sepertimu, Mas. Meskpiun jodoh tidak dipilihkan untuknya. Saya sempat mendengar tentang perempuan yang dijodohkan untukmu. Seorang dokter. Paras? Saya sama sekali tidak tahu. Kabarnya memiliki porsi badan agak berisi tetapi tidak terlalu cantik. Melihatnya pun tidak pernah, karena dia di ujung kota sana.
Sayup-sayup berita terdengar di telingan saya. Ada apalagi ini? Apa PENTING melaporkan isi KULKAS Mas kepada tante di Jakarta? what the hell is that? Dunia serasa bergunjang! Seperti itukah jodoh yang dipilihkan untukmu? Oh kalau saya jadi dirinya, meskipun saya tahu seberapa aneh isi lemari Mas, saya tidak akan memberi tahu secara "telanjang" kepada mereka. Apa-apaan ini? Saya muak mendengarnya! Belum pacaran saja sudah kaya gini, apalagi kalau menikah nanti? Bisa-bisa posisi bercinta yang tidak dia suka akan dilaporkan juga? Ups..fatal akibatnya. Seperti saya kutip dari film Monalisa Smile: "dont show your dirty laundry to people" , ada benarnya juga. nggak selalu salah kok. Apalagi ini orang bujangan. Ya sah-sah saja isi kulkas nggak ada isinya.
Masalahnya itu saja? Nee hoor! dat is niet alles van zijn problemen! Hoeveel mensen zijn er in Mas huis? Er zijn drie kinderen in zijn huis. Mereka keponakan Mas. Ibu Mas yang ingin mereka supaya disekolahkan disana, karena menyaksikan kakak-kakak Mas tidak becus mengatur rumah tangga sendiri atau terlalu dimanja ibu, Mas? Saya tidak tahu, itu bukan urusanku. Yang pasti ibu mas dulu salah satu penganut "i dont wanna people see my dirty laundry" tetapi dengan versi yang salah.
Setelah Mas mendapatkan posisi OK di perusahaan, Mas diminta untuk membawa mereka kesana. Menurutku kenapa harus ikut dibawa? Kenapa tidak di Jakarta saja? Bayar saja uang sekolah mereka sampai selesai kepada sekolah. Biarkan mereka tinggal di rumah masing-masing. Mungkin tidak semudah itu ya! Menurutku itu yang membuat orang tua mereka menjadi malas dan lepas tanggung jawab terhadap anak mereka. Piye toh?
Sekarang Mas punya pilihan sendiri. Jodoh pilihanmu. Meskipun kalau dilihat-lihat banyak yang ragu akan dirinya. Siapa dia? Saya tidak pernah mengenalnya. Menikah merupakan sesuatu yang membahagiakan pastinya tapi sejenak say melihat wajah bingung Mas ketika pernikahan semakin mendekati hari H. Aku tahu mas dilema antara ingin meraih kebahagiaan atas hidup Mas yang sudah sangat berat ini atau memegang janji ibu mas yg ingin cucu-cucunya tetap tinggal bersama.
Mas, nggak usah mikirin seragam buat saya dan yang lain. We are all fashion stylist hehehe! Cukup melegakan nggak? Mas nggak perlu repot mencarikan bahan yang sesuai untuk kita, karena saya yakin pada akhirnya keluarga dari pihak Mas akan mencari sendiri. Terlebih lagi dengan mama saya yang suka repot sendiri. Namanya juga orang tua. Pengen ini itu tapi giliran dikasih malah kita dimarahin. Katanya buang-buang duit. Tapi kalau nggak dikasih, juga ngomel-ngomel. Katanya nggak diperhatikan. Maunya apa? Yang penting hati ini tulus menghadiri pernikahan sakral yang akan diadakan nanti dan iringan doa yg khidmat mengantar Mas ke pelaminan.
Mas, hidup itu pilihan. Mas bisa juga pilih keduanya. Mas bukan anak kecil yang harus disuruh-suruh dan mengiyakan semua perkataan. Ikuti kata hati mas. Raih kebahagiaan itu. Hidup bukan untuk dibuat beban. Tolong Mas cicipi sedikit arti bahagia itu, yang sudah hampir hilang karena terlalu banyak mengurusi orang lain. Banyak yang menyender tanpa sadar di pundak Mas. Ya, saya tahu menjadi dewasa itu berarti harus bisa memikirkan orang lain juga. namun bukan seperti yang seperti sekarang ini.
Mas aku doain agar semua cepat selesai. Tuhan kan nggak bakal kasih cobaan diluar batas kemampuan manusia toh? Good luck mas!